paper assetTidak banyak orang yang tahu apa itu paper aset. Ketika ada pertanyaan tentang aset apa yang dipunyai, maka hampir semua orang menjawab tanah, rumah, emas, dll

Tahukah anda bahwa aset diatas merupakan bentuk dari konvensional aset, sedangkan paper aset merupakan aset yang berbentuk kertas, seperti saham, reksadana, deposito, ORI, Polis Asuransi. Dan sekarang ini sudah menjadi trend di negara maju.

Adapun salah satu jenis paper asset yang terkenal adalah Polis Asuransi yang sekarang ini sudah tersedia dalam bentuk syariah maupun non syariah

Nah sekarang apa perbedaan antara konvensional aset dengan paper aset ?

Okey sekarang saya akan share bagaimana gambaran konsep konvensional aset :

Contoh kasus membeli rumah:

Bp Bambang akan membeli sebuah rumah seharga Rp 1 Milyar dengan cara KPR

Sebenarnya Bp Bambang mempunyai uang cash sebesar Rp 1 Milyar tapi dia lebih memilih KPR, karena bisa diangsur dan ada asuransi jiwanya.

Jadi selama masa angsuran jika Bp Bambang meninggal dunia, maka ahli waris yaitu anaknya tetap mendapatkan rumahnya karena semua angsuran akan dibayarkan pihak asuransi sampai selesai (lunas)

Dengan KPR Bp Bambang hanya mengeluarkan uang :

–          DP Rumah 30 % dari 1 Milyar  = Rp 300 juta

Dengan DP Rp 300 juta, maka hutang ke bank sebesar Rp 700 juta. Jika asumsi bunga efektif 12% per tahun maka cicilannya adalah sekitar Rp 12 jutaan / bulan selama 10 tahun.

Nah jika tadi Bp Bambang mempunyai uang cash Rp 1 milyar maka masih memiliki sisa uang sebesar Rp 700 juta ( setelah dikurangi bayar DP Rp 300 juta ) dan jika uang Rp 700 juta didepositokan ke bank dengan bunga 7% per tahun akan mendapatkan bunga sekitar Rp 4 juta / bulan.

Dengan KPR meskipun cicilan baru 1 X apabila Bp Bambang meninggal dunia maka anaknya sebagai ahli waris sudah punya rumah senilai 1 Milyar.

Keuntungan mempunyai aset rumah dari contoh diatas :

  • Bp Bambang hanya bayar Rp 300 juta dan mempunyai kewajiban angsuran 12 juta / bulan selama 10 tahun, akan tetapi juga mendapatkan bunga Rp 4 juta / bulan dari deposito
  • Bila rumah langsung dikontrakkan atau dibuat rumah kos, maka akan langsung dapat tambahan income, semua ini bisa mengurangi kewajiban angsuran tiap bulan
  • Harga rumah selalu naik, sehingga sangat cocok untuk investasi
  • Jika kita meninggal dunia bisa untuk anak-anak
  • Ada asuransi jiwanya, sekali saja kita angsur dan terjadi musibah meninggal dunia, maka dianggap lunas dan rumah bisa untuk anak-anak.

Sangat menarik kan ? Tidak heran jika masyarakat Indonesia banyak yang punya konvensional assets untuk investasi maupun diwariskan ke anak2nya.

Tapi ada hal yang perlu dicermati jika aset berupa rumah yaitu kurang liquid

Jika Bp Bambang meninggal maka anak-anaknya langsung punya warisan rumah senilai 1 Milyar ? Benarkah ini semua ?

Ternyata Tidak ! Benar bahwa rumah itu adalah hak anak2 dan disaat akad kredit ada asuransi jiwanya, akan tetapi pihak asuransi hanya akan melanjutkan angsuran per bulan sampai lunas bukan melunasi KPR langsung. Jika tenor KPR selama 15 tahun, maka pihak bank akan memberikan sertifikat rumah 15 tahun kemudian ( disaat sudah lunas )

Maka apa yang terjadi jika ahli waris membutuhkan uang cash segera untuk suatu keperluan karena sang pencari nafkah sudah tidak ada ?

Rumah tidak bisa langsung dijual ( karena sertifikat di bank ). Solusinya adalah menunggu sertifikat diterima baru menjual rumah. Masalahnya adalah apakah menjual rumah mudah laku ?

Ada beberapa hal yang perlu kita lakukan saat menjual rumah :

  • Adanya biaya perbaikan dan maintenance sebelum rumah dijual
  • Bisa saja diperlukan biaya iklan
  • Adanya biaya pajak penjual yang dikenakan
  • Biaya notaris, biaya perantara, dll.

Ternyata mempunyai aset rumah bisa jadi terlalu ribet karena mengeluarkan biaya-biaya tambahan yang cukup banyak dan belum tentu bisa cepat terjual.

Inilah yang menyebabkan masyarakat di negara maju tidak terlalu berminat menambah konvensional aset , lalu aset apakah yang mereka tambah?? Yaitu paper aset.

Keuntungan paper aset dibandingkan rumah atau property:

  • Nilai paper aset akan tumbuh layaknya harga rumah yang selalu naik
  • Bisa diangsur tanpa bunga
  • Tidak diperlukan DP atau uang muka
  • Tidak ada biaya maintenance.
  • Tidak ada biaya pajak waris.
  • Tidak ada biaya balik nama atau notaris.
  • Bisa dibagi rata dan adil kepada ahli waris, sehingga tidak timbul perselisihan di kemudian hari.

Contoh kasus membeli paper aset :

Bp Bambang saat ini berusia 40 tahun akan membeli sebuah paper aset berupa polis asuransi senilai 1 Milyar

Berapa harga polis senilai 1 milyar buat Bp Bambang ?

Ternyata Bp Bambang hanya mempunyai kewajiban membayar sebesar Rp 1,5 juta / bulan selama 10 tahun

Total yang Bp Bambang bayar selama 10 tahun hanya Rp 180 juta saja….! ( Tergantung hasil investasi )

Dalam proses ini sama sekali tidak diperlukan uang muka.

Apabila Bp Bambang meninggal dunia, maka ahli waris (anak-anaknya) akan mendapatkan cek 1 milyar ditambah dengan hasil investasi meskipun baru membayar sekali saja sebesar Rp 1,5 juta

Berikut ilustrasi hasil investasi untuk polis Bp Bambang

  • Usia 55 tahun hasil investasi sekitar Rp 400 jutaan *
  • Usia 65 tahun hasil investasi sekitar Rp 1,6 milyar *
  • Usia 75 tahun hasil investasi sekitar Rp 6 milyar *

          * Ilustrasi pertumbuhan investasi 15% per tahun

Tapi apabila meninggal di usia 65 tahun, maka ahli waris (anak-anaknya) akan mendapatkan cek 1 milyar ditambah dengan hasil investasi sebesar Rp 1,6 milyar

Total buat anak-anaknya Rp 2,6 milyar…! ( Baca juga : Paper Aset Bisa Untuk Proteksi Gaji Kita )

Luar biasa bukan ?

( Baca juga : Mau Paper Aset 1 Milyar dari Prudential ? Simak cara mudahnya )

Inilah rahasianya kenapa di negara maju tidak berminat memperbanyak konvensional assets karena paper aset jauh lebih murah dan simple.

Dan bagi anda semua yang berminat punya paper aset tidaklah harus dengan setoran mahal per bulannya, karena bisa dibeli cukup hanya dengan setoran Rp 400.000 / bulan

Bp Bambang sudah membeli paper asset. Bagaimana dengan anda ? Yuk Beli !

Informasi dan Konsultasi ( GRATIS ! )

Bambang Tejo Narsoyo

Call/Sms/WA : 0815 7511 8000

Pin BB : D051BBAF

Berita Terkait :

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *